Sekolah Yang Susah Itu Sekolah Yang Telat
Ilustrasi Kamu Saat Kelas 12 |
Aku dihadapkan oleh pertanyaan "koq baru sekarang kuliahnya?" maka biasanya aku akan menjawab "baru ada rezekinya sekarang sih". Tapi tadi pagi ketika aku dihadapkan dengan pertanyaan yang sama dan tiba-tiba muncul keinginan untuk mengatakan secara terbuka alasan sebenarnya.
Sambil meminum secangkir teh buatan teteh ku tercinta, aku mulai menjawab nya dengan perlahan.
Dulu orang tua berkeinginan untuk memasukkan Mba ke Sekolah Tinggi Ilmu Grafika dan besar harapan Papa untuk Mba bisa meneruskan bisnis percetakan beliau. Mba pada saat itu ingin meneruskan sekolah ke salah satu sekolah seni ternama, Mba ingin menjadi seorang musisi. Tetapi yang namanya orang tua bagaimanapun tidak ingin masa depan anaknya tidak karuan apalagi berantakan. Memang pada saat itu peluang pekerjaan di bidang musik belum begitu menjanjikan. Tidak seperti sekarang, band-band anak negeri mulai menjamur. Sampai-sampai susah menghapal nama-nama band nya. Karena Mama tidak mendukung apa yang menjadi keinginan Mba akhirnya Mba berkeluh kesah ke tempat Mbah Ris mu itu, ujar saya.
Mbah Ris adalah penengah bagi saya, dia adalah Ibu kedua bagi saya, darinyalah saya belajar bagaimana cara hidup mandiri dan menyenangkan.
Mungkin kalau tidak mengenal Mbah Ris mu, Mba sudah ditemukan mati Dek".
Hah mati Mba? Maksudnya??!
Yah karena keinginan yang kuat untuk jadi musisi itu, Mba rela gak makan-makan dan mengurung diri dikamar, bahasa gampangnya Mba demo sama Mama juga Papa.
Lah terus koq mba sekarang bisa tinggal sama Mbah Ris?
Beberapa bulan setelah aksi demo Mba, Mbah Kakung mu memutuskan untuk pindah ke kota ini, tanpa banyak kata Mba langsung menawarkan diri untuk ikut. Dengan alasan bantu-bantu pindahan rumah (alasan yang konyol terdengar saat ini). Karena pada saat itu Mba mati-matian tidak mau melanjutkan kuliah apalagi kerja alias jadi pengangguran berat, mau tak mau Papa memaksa Mama buat ngeluarin izin. Yah walaupun hanya dua minggu Mba merasakan udara kota ini tapi Mba yakin suatu saat Mba bisa kesini lagi.
Kira-kira satu tahun setelah Mbah mu pindah akhirnya mba pun hijrah ke kota ini Dek. Dengan hanya bermodalkan ijazah SMU semua pekerjaan pernah Mba jalani, dari mulai baby sitter loh Dek. Agira, benar-benar menyimak apa yang saya ceritakan, sampai-sampai dia lupa kue yang tersaji di meja. Aku pun kembali bercerita sambil sesekali melihat jam. Banyak sudah pekerjaaan yang Mba jalani dek, sampai akhirnya Mba kenal dengan seorang teman yang kebetulan pekerjaan nya saat itu SPG. Sebenarnya sudah lama Mimi menawarkan Mba job-job SPG tapi Mba selalu beralasan manis untuk menolaknya, maklumlah pandangan orang awam pada saat itu masih miring dibidang pekerjaan ini. Tapi karena pada saat itu Mba ingin sekali melanjutkan kuliah dengan hasil keringat sendiri dan membuktikan pada orang tua bahwa Mba mampu mandiri, Mba coba ambil tawaran kerja itu. Dan alhamdulillah berbagai tawaran job banyak berdatangan ke Mba tanpa susah payah mencari.
Waduh dek Mba sudah telat nih, nanti sore mba lanjutkan ceritanya ya, Mba ada janji, ujarku.
Sore itu selepas aku bertemu dengan temen-teman ku, Agira sudah menunggu dirumah dengan segelas kopi Nescafe kesukaanku dan sudah menjadi kebiasaan juga meminum kopi selepas beraktifitas diluar. Saya tersenyum sambil memuji Agira "Wah anak gadis siapa ini yang sedang berbunga hatinya sampai-sampai ada segelas kopi plus roti disiapkan di meja". Agira pun menjawab dengan cepat "Iya Mba biar segeran jadi lebih semangat lanjutin ceritanya kan" ucap Agira dengan senyum tak berdosanya, menyebalkan.
Setelah aku mandi dan merasa lebih segar rasa aku pun duduk diberanda rumah dimana Agira sedang duduk memainkan Blackberry nya. "Aih wangi banget Mba, mau kemana lagi?" sedikit dengan muka kecewa. "Mau ketemu fans aja yang nungguin lanjutan cerita tadi pagi, kalau wangi dan cantik kan fans nya jadi lebih kesemsem dek" Agira pun tersenyum meledek. Sambil menenggak kopi buatan Agira aku pun mulai bercerita, dibuka dengan obrolan ringan tentang kegiatan Agira sampai akhirnya berlanjut ke topik tadi pagi.
Agira mulai dengan pertanyaan-pertanyaan nya menyangkut kuliah ku yang baru ku ambil di usia ku mendekati 25 tahun. "Koq bisa kuliah disini Mba?". Ya singkat cerita sore itu, Mba hangout sama temen-temen di WR Dek, nah sore itu pas bertepatan marketing kampus nya lagi nyebarin brosur di area WR. Tanpa banyak kata langsung Mba ambil brosurnya sambil berucap terimakasih, Mba pun lanjut membaca brosur itu. Sebelum terlalu jauh Mas Riri, salah satu siswa senior di kampus dan beliau staff marketing menjelaskan tentang program pendidikan yang ada disitu, Mba langsung nyeletuk "Mas kalau untuk Pemasaran kapan mulai belajarnya?". Melihat Mba yang antusias bertanya beliau pun menjelaskan dengan semangat tentang informasi-informasi yang perlu Mba ketahui, sebagai penutup Mba pun meminta nomor hp Mas Riri. Akhirnya di tahun ajaran 2009-2010 Mba memulai perkuliahan Mba tapi diakhir semester Mba terpaksa melepas kuliah Mba untuk pekerjaan Mba sekarang ini Dek. Ya dalam hidup selalu ada prioritas Dek, selalu ada yang dikecewakan, itu pasti. Agira menyimak dengan serius. "Gak capek Mba, kuliah sambil kerja?" Saya pun menjawab "Capek pastinya, kesempatan untuk bersosialisasi jadi jauh berkurang Dek, Mba gak bisa lagi kumpul sama temen-temen sesering dulu. Tapi ya namanya awal-awal kesuksesan ya harus dimulai seperti ini dulu, sepertinya.
Makanya Agi selagi punya kesempatan untuk bersekolah, ya sekolah saja setinggi-tingginya kalau bisa dapet beasiswaitu lebih bagus lagi Dek. Soalnya ada nilai plus dan kurangnya jika memilih perjalanan pendidikan seperti Mba, kalau nilai plus nya Mba bisa lebih mengerti bagaimana mengatur waktu agar tidak telat ditempat kerja maupun kampus dan teman-teman Mba pun bertambah plus Mba bisa promosikan kampus ditempat kerja dan begitu sebaliknya" ujar saya terkekek. Agira pun memandang wajah saya sambil berkata "Iya Mba kelihatan jauh lebih dewasa raut mukanya setelah mulai kuliah lagi" ucap Agira dengan muka mengejek.
-Tamat-
Salam Damai dan Semangat buat Kalian Pejuang Bangku Pendidikan dari Pejuang Yang Masih Mencari Beasiswa buat kejar gelar Sarjana dan Pascasarjana, jangan lupa bantu aminin, biar kekinian XOXO.
Tulisan ini telah di edit dan aku dedikasikan untuk :
Alm. Ris Achyati Binti Ahmadi
Seorang Ibu Yang Lucu dan Koki Unggul
Komentar
Posting Komentar