Museum Yang Berjuang Agar Tak Terabaikan


Ilustrasi Museum Yang Kosong Karena Terabaikan

Museum Perjoangan Bogor, begitu tulisan yang tertera di dinding di depan sebuah pusat gosir batik di kota hujan, Bogor. Setiap kali aku melewati museum itu khayalanku jauh melambung pada tahun 1940-an saat masa perjuangan. Masa dimana dengan mudahnya terlihat darah berceceran dimana-mana, jenazah tak bernama terabaikan begitu saja, rumah-rumah penduduk yang tak berpenghuni karena di tinggalkan tuannya. Membayangkannya saja sudah membuat bulu kuduk ku merinding. 

Ketidakhadiran dirinya, ya dirinya lelaki pintar sepanjang masa, panggil dia Edward menggiring aku menyusuri kota hujan, Bogor. Sudah lama aku ingin mengunjungi sebuah gedung tua di jalan Merdeka. Dengan perasaan sedikit ragu ku langkahkan kakiku menuju gedung tua itu. Begitu aku memasuki museum itu aku disambut oleh seorang pemuda dan akupun mulai berbasa-basi.

 “Bang apa museum ini dibuka untuk umum? aku berbasa basi”. 
“Ya Mba, tiketnya masuknya Rp. 3000 (tahun 2013) sambil menyobek tiket masuk pemuda itu menyahut.
 
“Selamat siang Mba, saya pemandu di museum ini selama Mba disini saya akan memandu Mba berkeliling” sapaan seseorang sambil mengulurkan tangan dan menyebutkan namanya. Pak Mahruf begitu beliau biasa di sapa, mengajakku berkeliling sambil bercerita tentang sejarah gedung tua ini dan perjuangan beliau selama kurang lebih dua tahun agar museum ini ramai pengunjung. 

Kesan pertama yang muncul di benakku saat melihat Pak Mahruf adalah mungkin di balik kesibukkannya melestarikan warisan sejarah bangsa, ia seorang guru pikirku. Pak Mahruf seorang yang sederhana, tata bahasanya santun, ia sering terlihat berapi-api saat menceritakan betapa keras usaha dan perjuangan beliau juga rekan-rekannya demi memajukan museum ini. Aku mendengarkan dengan seksama sambil sesekali mengangguk tanda setuju. Dengan sabar Pak Mahruf menjelaskan padaku tentang perubahan bangunan museum dari masa ke masa. Kaki kami perlahan menaiki tangga menuju lantai dua yang berada disebelah kiri kami. Sesampainya kami dilantai dua nampak lemari-lemari kaca yang menyimpan pakaian-pakaian para pejuang, alat komunikasi juga alat-alat tulis zaman dulu seperti mesin tik, telepon dengan box besar dan mesin stensil tertata rapi dalam lemari pajangan. Seketika akupun tenggelam dalam bayangan masa kecilku ketika masih tinggal bersama Kakekku.

Mesin Ketik

Mesin Stensil 

Kalimat Pak Mahruf membuyarkan lamunan ku, ketika ku dengar Pak Mahruf berkata saat ini Museum Perjoangan Bogor sedang menunggu SK dari Asosiasi Museum Jabar Wil. I yaitu Cianjur, Depok dan Sukabumi. SK itu akan membantu kelangsungan museum ini begitu kira-kira hal yang aku tangkap dari cerita beliau. Bantuan dari pemerintah daerah perbulannya di gunakan untuk menutupi biaya operasional sedangkan untuk perawatan benda-benda sejarah Pak Mahruf masih harus berpikir keras agar tercapai sesuai harapan. Dengan pendapatan tidak lebih dari Rp.500.000/bulan Pak Mahruf beserta ketiga rekannya merawat dan melestarikan memori masa perjuangan. Dengan bermodalkan rasa nasionalisme yang tinggi serta keinginan yang kuat agar generasi seterusnya tidak melupakan perjuangan para pahlawan bangsa yang telah bersimbah darah merebut kemerdekaan, Pak Mahruf menjalani sebagian besar harinya di museum ini beserta ketiga rekannya.


Empat Serangkai dari Cianjur


Kapten Muslihat

Penayangan film-film perjuangan menjadi salah satu agenda tur dimuseum ini. Penayangan film perjuangan tersebut biasanya diadakan di lantai dua gedung museum. Pengunjung dengan grup biasanya akan mendapatkan penjelasan tentang susunan kegiatan yang akan dilakukan dimuseum saat berkunjung melalui Pak Mahruf. Untuk pengunjung dari grup remaja dan dewasa doa bersama untuk mendoakan para pahlawan bangsa yang gugur saat berperang menjadi agenda wajib. Sedangkan untuk grup dengan peserta anak-anak di selipkan sesi mendengarkan cerita perjuangan pahlawan. Begitu penjelasan Pak Mahruf kepada ku sambil berjalan kembali menuruni tangga dan menuju lantai dasar kembali.

Saat akan menuruni anak tangga menuju lantai satu di sebelah kanan juga kiri tampak foto-foto tugu dari bongkahan batu besar yang tulisan dibatu itu, tidak bisa aku baca karena terlalu kecil. Pak Mahruf menjelaskan jika tugu-tugu itu adalah tanda batas wilayah kecamatan tempo dulu. Sesampainya kami dilantai dasar Pak Mahruf menutup kisah perjuangan kota Bogor dengan menawariku untuk menyambangi kantor beliau. Tanpa basa basi aku langsung mengiyakan tawaran beliau. Memasuki kantor Pak Mahruf aku melihat meja beliau dipenuhi dengan buku-buku sejarah yang terlihat usang. Pak Amaruf menyodorkan satu album yang berisi foto-foto kota Bogor yang tentunya jarang dilihat pengunjung lain. Aku merasa beruntung bisa dipertemukan dengan pak Pak Mahruf, sungguh beliau tidak pelit informasi. Disela-sela obrolan kami aku tiba-tiba tergelitik untuk bertanya. Tanpa banyak basa basi aku pun langsung ke inti pertanyaan ku. “Pak, untuk masyarakat Bogor sendiri khususnya para pemuda, mungkin dari komunitas tertentu apakah sudah ada yang berkunjung?” Beliau menjawab dengan nada serius “Ada Mba, dari daerah Sukabumi dan Cianjur mereka komunitas biker sudah pernah berkunjung kesini”. Aku bertanya dalam hati kemana para pemuda kota hujan ini ya, apakah mereka terlalu sibuk berpetualang dengan gadgetnya sehingga mereka lupa untuk berpetualang di kota sendiri?. Ku lihat jam ditangan ku hampir menunjukkan pukul empat sore. Menutup obrolanku dengan Pak Mahruf aku mengajukan pertanyaan terakhir kepada beliau ”Pak kira-kira bantuan seperti apa yang bapak harapkan dari kami para pemuda Indonesia?” Pak Mahruf terdiam sesaat dan berkata ”Saya ingin orang tidak melupakan museum ini, saya ingin generasi penerus bangsa ini bisa menjadi generasi yang menghargai pejuangnya hingga kelak mereka dewasa bisa menjadi pemimpin yang bijak dan adil".

Sambil tersenyum dan menjabat tangan Pak Mahruf aku berkata ”aamin Pak, semoga banyak yang terbuka hatinya untuk berkunjung kesini dan terimakasih untuk tur hari ini Pak Mahruf, semoga SK nya cepat diterbitkan ya Pak” ujarku.

Guys, dimasa sekarang ini sosok seperti Pak Mahruf masih harus mati-matian berjuang demi melestarikan warisan sejarah bangsa. Memang bukan untuk mempertahankan wilayah NKRI semua itu beliau lakukan untuk menjaga agar memori para pahlawan bangsa ini tetap ada dan harum dihati generasi anak bangsa. Agar apa yang yang menjadi sejarah tidak dilupakan begitu saja. Aku pikir menghargai perjuangan para pahlawan tak hanya sebatas upacara bendera 17 Agustus saja. Melestarikan dan menjaga warisan sejarah bangsa dengan menyambangi tempat bersejarah seperti Museum Perjoangan Bogor adalah salah satu upaya kita untuk melestarikan dan menjaga sejarah bangsa Indonesia. Jika bukan kita siapa lagi? Semoga diantara kalian pemuda pemudi diluar sana sesekali bisa meluangkan waktu saat berkunjung ke kota hujan, Bogor untuk menengok kisah yang telah ditorehkan oleh para pahlawan bangsa. Sesampainya disana semoga Sahabat bisa memetik pesan dari mesin tik dilantai dua atau mungkin pesan langsung dari pahlawan yang tak di duga-duga.

Lokasi : Museum Perjuangan Bogor Jl. Merdeka No. 56  tepat di depan Pusat Grosir Bogor (PGB)

"Salam Damai dan Cinta buat Bangsa Indonesia dari Anak Bangsa"

Tulisan ini saya dedikasikan untuk :
H. Choliludin (Alm.) putera dari H. Maosul (Alm.)
Seorang pejuang dari era Kemerdekaan Republik Indonesia dan pejuang saya yang menyelamatkan saya dari ketidak tahuan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bogor Ke Krakatau 2014 #TRAVEL JOURNEY 1

Wanita Memang Sudah Terlahir Indah

Cinta Sejati Itu Apa Sih?