NAP Fashion Store dan Perjalanan O2 Membangun Bisnis
NAP Fashion Store Bandung saya dapat panggilan whatsapp dari nomor tak dikenal ternyata telepon ini dari istri salah satu kolega sekaligus mentor saya saat bekerja di kota Bogor. Nama NAP terlihat dari logo yang tersemat saat saya menyimpan data kontak tersebut. Setelah melalui beberapa chat santai baru hari ini saya sempatkan memenuhi undangan dari wanita Indonesia yang sederhana tapi elegan Jeng Amy pemilik NAP Fashion Store. Jeng Amy begitu beliau dipanggil oleh kerabat dan kolega nya terlihat bersahaja dengan hijab nya yang panjang dibalut gamis berwarna pastel.
Siang ini Jeng Amy berencana untuk berdiskusi mengenai bisnis barunya ini beliau perlu masukan dan kritik membangun dari beberapa kolega yang dikenalnya saya duduk dan mendengarkan dengan serius obrolan ringan tapi isinya daging semua. Seorang ramena (saya) cuma punya background pekerja alias pembantu seorang pebisnis sebel juga sih kalau harus disematkan kata "pembantu" kedengarannya koq gak enak ditelinga ya. Maka dari itu kesempatan ikut serta di obrolan sore itu sangat menggerakkan otak saya dan tentunya tidak saya sia-sia kan setiap menitnya.
Beres mengobrol santai dengan kolega Jeng Amy dan grup sosialita tersebut bubar maka tinggal saya, Jeng Amy dan suaminya duduk bertiga bersama. Obrolan pun berlanjut dan mengarah kepada hobi baru saya di dunia digital marketing. Sang suami, Babeh langsung berkata "Al saya perhatikan beberapa bulan ini kamu sering sekali posting-posting di instagram dan buat beberapa copy writing yang menarik dibaca, kamu memang suka nulis-nulis di medsos gitu ya?" suami jeng Amy membuka obrolan. "Ya pak, saya saya hobi nulis dan perkembangan mengenai informasi digital selalu buat saya kepo" ujar saya.
"I see, bisa gak kamu kelola akun istri saya untuk bisnis barunya Instagram NAP Fashion Store ?" tanya nya. "Udah gak usah tunjukkan hasil kerja kamu saya sudah tahu hasil postingan kamu koq" tambahnya sebelum saya bahkan sempat menjawab.
Jantung saya deg-degan dalam hati saya berkata "oow langkah saya terbaca oleh orang lain ini artinya tendangan saya menjurus, mungkin ini sudah waktunya." Detik berikutnya saya menjawab dengan santai "Ok Pak saya buatkan langsung akun nya" dalam hitungan menit akun instagram rampung dibuat dan obrolan berlanjut ke obrolan-obrolan mengenai hobi saya di dunia digital dan bisnis baru dari duo pebisnis ini.
Jeng Amy lebih bersuara dari sebelumnya ketika berbicara mengenai NAP ternyata keinginannya untuk terjun kedalam bisnis pakaian anak ini dikarenakan beberapa tahun lalu ia kesulitan saat mencari pakaian anak yang berkualitas tapi gak nguras kantong.
"Kebanyakan barang bagus itu mahal harganya dan kadang gak masuk diakal" ujarnya. "Bagaimana bisa masuk akal harganya bisa sampai 2 ratus ribu per lembar (atasan/bawahan saja) sayangkan hambur-hamburkan uang hanya untuk selembar pakaian dan 6 bulan berikutnya harus beli pakaian lagi karena sudah gak muat dipakai si kecil" tambahnya. Iya juga ya ngapain hamburkan rupiah hanya untuk selembar baju yang dipakai harian dan singkat pula waktunya. Saya mengangguk sambil menyelidik "lalu Jenk Amy kira-kira mau produksi sendiri atau ambil dari grosir untuk produk pakaiannya" saya bertanya. "Kita akan produksi sendiri untuk produk NAP akan lebih mudah untuk menentukan desain yang cocok dengan tren pasar terbaru" jawabnya dengan wajah berseri.
Obrolan sore itu pun ditutup dengan makan malam di gerai makanan yang ternyata bisnis ketiga dari duo pebisnis ini. Saya takjub melihat keberanian mereka berdua dalam membangun bisnis bahkan bisnis makanannya saat ini sudah berkembang dan mempunyai 16 cabang di kota Bandung, very interesting. Bisnis memerlukan keberanian dan ketekunan tidak hanya obrolan kosong warung kopi ternyata it is real dan otak saya mulai mempertanyakan kira-kira bisnis digital yang saya rancang dan kulik satu tahun ini apakah akan mampu berkembang seperti bisnis makanan mereka? Saya pikir Ya.
Pada tahun 2018 hati saya mulai tergerak untuk berwirausaha dan setiap kali ada tawaran dari iklan mengenai peluang bisnis biasanya saya langsung kulik sampai mentok sendiri hehehe dan setelah saya memutuskan resign sebagai pekerja pada awal 2020 disebuah perusahaan di Jakarta ide-ide saya mengenai berwirausaha malah berkembang. Ini cerita saya mengenai perjalanan berwirausaha saya, cerita kamu dirumah apa ladies?
Wanita Indonesia untuk Wanita Indonesia Hebat



Komentar
Posting Komentar