Pemikiran Pekerja Selayaknya Manusia Yang Beragam

 




A
da pertanyaan dalam benak saya sebagai individu. Lebih mudah mana mempertahankan atau membangun suatu komunitas yang sampai sekarang masih menggantung dibenak saya sebagai praktisi profesional masa kini.

Mungkin karena karakter asli saya ini seorang philantropi saya lebih menyukai segala sesuatu yang damai-damai saja dan berbasis kemanusiaan dan keadilan, saya tidak suka konflik saya lebih suka menghadapi masalah dengan cara diplomasi yang tentunya saling menguntungkan kedua belah pihak ya setidaknya tidak ada yang dirugikan dan tidak lari dari etos kehidupan baik secara profesional maupun pribadi. Itu pikiran saya loh ya sebagai seorang philantropi tapi pada kenyataannya dunia tidak berjalan seperti apa yang ada di benak saya. Dunia itu keras bung dan untuk saya yang tergolong keras terhadap diri saya sendiri saja saya masih suka terkaget-kaget dengan cara komunitas bekerja secara otomatis, terkadang saya terkagum-kagum, terkadang terkaget-kaget. Tapi manusiawi lah ya, saya juga dalam tahap proses pembelajaran.

Saya terkagum-kagum pada keberhasilan seorang pemimpin-pemimpin dunia yang berhasil menjadikan komunitasnya mampu bergerak dengan ide-ide brillian, gila saya pikir bagaimana caranya para pemimpin itu menggerakkan masa dengan begitu seimbang tanpa ada riak gelombang tsunami yang menyatakan penolakan kebijakan. Gila sih ini gila! Ilmu leadership dan komunikasinya benar-benar harus di contoh. Nah kembali lagi ke pemikiran saya yang masih menggantung lebih mudah mana membangun dan mempertahankan???

Ternyata ilmu saya belum sampai setinggi itu untuk menjawabnya dan inilah pertanyaan-pertanyaan saya sebagai seorang individu yang mempunyai kebebasan berpikir dan  landasan saya berpikir adalah “kemanusiaan&keadilan yang beraturan” ini dia :

Membangun suatu komunitas biar bisa satu visi itu apa saja sih yang diperlukan?

1. Menyatukan dua komunitas yang berbeda itu apa mungkin?

2. Lantas jika sudah terbangun suatu komunitas dengan ekosistem kerja dan budaya komunikasi yang asik&kreatif apa yang harus dilakukan untuk mempertahankan dan memajukan komunitas tersebut?

3. Lalu apa langkah-langkah awal yang bisa diterapkan untuk menjadikan komunitas ini berhasil?

4. Berapa lama target ini harus dilakukan? Apakah dalam jarak waktu tiga bulan cukup untuk menjadikan suatu komunitas bergerak selaras dengan jalur dan berbagai lini yang tersedia?

 


Sebagai seorang individu yang mempunyai kebebasan untuk berpikir tentunya saya ingin apa yang ada dalam pikiran saya ini isinya daging semua minimal saya bisa memberi fondasi pemikiran anak-anak saya nanti dengan pemikiran positif [naif] dengan harapan hati dan pemikirannya tidak terkotori dengan hal negatif. Pun jika ada hal-hal negatif anak-anak saya kelak sudah bisa menghadapinya dengan akal sehat. Ini alasan saya selalu menulis dan mengutarakan hal-hal positif saja, biar untung terus :D tapi kembali lagi dalam hidup gak ada yang namanya untung terus sesekali merugi tapi layaknya seorang trader saham tentunya loss itu harus kelola dengan baik pula.


Kembali lagi ke soalan membangun dan mempertahankan keberhasilan suatu komunitas saya sangat tertarik dengan pola pikir manusia. Menurut versi saya ada 5 versi manusia di dunia, ini dia :

1. Orang kaya baik hati, rendah hati, punya pemikiran hidup luas       banget

2. Orang kaya sombong dan ketakutan, punya pemikiran hidup sempit

3. Orang biasa baik hati dan rendah hati, punya pemikiran hidup lebih    luas dari orang kaya

4. Orang biasa sombong, iri hati, punya pemikiran sempit

5. Orang mati yang gak mikirin dan merasakan apa-apa kecuali hasil       amalnya di dunia


Nah diantara 5 daftar diatas semua nya bener-bener riil ada di dunia. Tapi diantara 5 daftar tersebut belum tentu semuanya itu benar apa adanya, kecuali nomor 5 ya kenapa saya katakan demikian? Karena semua sebutan/versi diatas bisa didapatkan dari Asumsi orang terhadap Anda, serem ya? Itulah kenyataan nya bung. Aku, Kamu dan Dia tidak akan pernah bisa membendung apa yang ada dalam pikiran seseorang, tapi kita bisa menciptakannya dengan yang positif. Cara berpikir manusia itu sungguh unik, ada yang berpikirnya berdasarkan perasaan saja tanpa pake logika sehingga ego dirinya yang di dahulukan logika mah belakangan.

Ada juga yang pake logika aja berpikirnya tanpa pake perasaan tapi ada juga yang bisa mengesampingkan perasaannya dengan tetap bersikap tegas dan membangun, nah ini yang langka dan unik. Dan hanya sedikit orang yang punya soft skill hidup seperti ini, sangat menarik benar-benar menarik. Lantas pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana skill ini bisa dikuasai? Yang saya amati mereka-mereka yang skill dewa ini sangat lihai dalam keahlian menjadi pendengar yang baik karena hobi mereka mendengar jadinya berbagai informasi di serap sehingga mudah menganalisanya di lapangan. Cukup mudah ketika melihat atau membicarakannya tapi saat mencoba menerapkannya ego Anda akan di uji dan lidah Anda mau tak mau harus banyak di gigit untuk bisa menyerap berbagai informasi dengan matang, itu kenyataannya bung. Jadi bersiap-siaplah membuang ego dan menggantinya dengan pikiran terbuka supaya sebagai calon pemimpin tentunya Aku, Kamu dan Dia gak gagal paham memahami orang lain. Pengen jadi pemimpin yang di rindukan orang banyak bukan? Saya juga mau lah, minimal untuk anak-anak saya kelak.


Salam dari Wanita Indonesia untuk Pekerja Hebat Indonesia






                    

Tulisan ini saya dedikasikan untuk :

Pekerja Indonesia Masa Corona dan Calon Pemimpin Komunitas Profesional&Sosial Indonesia




 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bogor Ke Krakatau 2014 #TRAVEL JOURNEY 1

Wanita Memang Sudah Terlahir Indah

Cinta Sejati Itu Apa Sih?